Minggu, 28 April 2013

Manusia dan Cinta Kasih

Nama   : Asep Rachmat Yanuar
Npm    : 11112201
Kelas   : 1KA38



BAB I
PENDAHULUAN 


Latar belakang
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan sebagai wakil Tuhan di bumi yang menerima amanat-Nya untuk saling mencintai dan menyayangi. Dan juga Sebagai hamba tuhan yang mempunyai kewajiban untuk beribadah dan menyembah Tuhan Sang Pencipta dengan tulus 

Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua, dan agar mahasisawa dapat memahami tentang manusia dan cinta kasih. 



BAB II
PEMBAHASAN 


MANUSIA DAN CINTA KASIH

manusia adalah makhluk yang diciptakan Tuhan paling istimewa karena satu-satunya makhluk yang memiliki akal budi dan bisa menguasai seluruh isi bumi. Manusia itu sendiri bersifat sosial, artinya manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu memiliki ketergantungan terhadap sesamanya. 

Rabu, 03 April 2013

Faktor-Faktor Penyebab Perubahan Sosial. Faktor–Faktor Internal. Faktor-Faktor Eksternal


Untuk materi ini mempunyai 1 Kompetensi Dasar yaitu:
Kompetensi Dasar : 
  1. Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat

Faktor Intern antara lain:

  • Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
  • Adanya Penemuan Baru:
  1. Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
  2. Invention : penyempurnaan penemuan baru
  3. Innovation /Inovasi: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh : kesadaran masyarakat akan kekurangan unsure dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat
  • Konflik yang terjadii dalam masyarakat
  • Pemberontakan atau revolusi

Faktor ekstern antara lain:

  1. perubahan alam
  2. peperangan
  3. pengaruh kebudayaan lain melalui difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi ( pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi)
Jadi menurut Soerjono Soekanto faktor pendorong perubahan sosial adalah:
  1. sikap menghargai hasil karya orang lain
  2. keinginan untuk maju
  3. system pendidikan yang maju
  4. toleransi terhadap perubahan
  5. system pelapisan yang terbuka
  6. penduduk yang heterogen
  7. ketidak puasan masyarakat terhadap bidang kehidupan tertentu
  8. orientasi ke masa depan
  9. sikap mudah menerima hal baru.

Sumber: Dari wikan2004.multiply.com

Perubahan sosial budaya dalam era modernisasi dan globalisasi press

1. A. Modernisasi 
B. Globalisasi 
C. Dampak Modernisasi dan Globalisasi 
D. Tantangan Global Terhadap Eksistensi Jati Diri Bangsa 
E. Gagasan dan Pemikiran untuk Mengatasi Memudarnya Jati Diri Bangsa

2. Arti Modernisasi
• Proses perubahan masyarakat dari masyarakat tradisional menuju masyarakat modern dalam segala aspek. (sosio- demografis, sosio-politik, struktur organisasi sosial, psikokultural, dll)
• Tidak hanya diartikan sebagai iptek saja, namun juga dimaknai sesuatu yang baru, up to date. Sehingga konsep modernisasi dapat diterapkan dalam segala aspek pula, musik, pola hidup, budaya, dll


3. Faktor Pendukung
• Berfikir ilmiah
• Sistem administrasi negara
• Iklim modernisasi, terutama media massa
• Organisasi
• Sentralisasi wewenang dalam perencanaan sosial yang baik.
• Utama: faktor subjek (manusia)

Derai Cemara Udang

Puisi 


Angin pantai disela gerimis
Mendera pelan, sejenak
Berteduh di bawah
Pohon-pohon cemara udang

Kemudian lenyap ke arah
Gubuk-gubuk bambu yang reot
Tanpa atap di tepian jalanan pantai

Senja ini..
Tiada yang romantis atau membiuskan angan
Ke dalam khayal yang beku
Dan ratusan hari terkubur diam

Pantai ini telah sepi..
Hanya derai cemara udang..
Hanya rintik gerimis yang tidak kunjung reda
Tidak juga menjadi hujan deras

Dongeng Man Doblang (Tinggi Badan Baginda Raja)

Dongeng 


Man Doblang 
(Tinggi Badan Baginda Raja) 


Kesulitan rakyat Mataram tidak hanya datang dari kekuasaan rakus Belanda. Kadang juga dari kalangan keraton sendiri. Lebih sulit lagi jika pangkal soalnya adalah Baginda Raja sendiri. Masalah Raja menjadi malapetaka. Baginda Raja tetaplah dianggap penguasa tunggal, penguasa tertinggi. Sampai sekarang pun, bayangan tubuhnya tak ada yang berani menginjak. Memandang langsung pun tak diizinkan, kecuali sedang diajak bercakap. Itu pun diawali dan diakhiri dengan gerakan menyembah. Masalah sederhana ini terjadi ketika Mantri Pribadi harus mengisi formulir mengenai data diri Baginda Raja. Kolom mengenai tanggal lahir, nama keluarga, berat badan, semua bisa terisi. Kecuali kolom tinggi badan Baginda Raja. Isinya masih titik-titik. Karena tidak ada yang berani mengukur tinggi badan Baginda Raja. Karena itu artinya menyentuh kepala Baginda Raja. 

Mantri Pribadi pernah meminta tolong Permaisuri agar mengukur tinggi Badan Baginda kala tidur. Tapi upaya ini gagal karena Permaisuri takut saat diukur Baginda terbangun. Pernah pula diupayakan cara lain. Ketika Baginda Raja berdiri dekat dinding, diperkirakan tingginya. Tapi ini tidak akurat. Kalau berbohong mengenai Baginda Raja, hukumannya sangat berat. 

Dalam keadaan putus asa, Mantri Pribadi menemui Man Doblang untuk minta tolong. 
“Kepada siapa lagi saya minta tolong, Paman?” 

“Bawa meteran, langsung diukur. Kalau Baginda Raja marah, katakan bahwa Pak Mantri diperintahkan mengisi formulir.” 

“Saya bisa dipecat, dan seluruh keluarga saya akan dihukum.” 

“Karena Pak Mantri sudah berusaha sepenuh tenaga, saya bersedia membantu.” 

Cerpen Persahabatan

“Amanda, Amanda, tunggu aku sebentar”.

Sekolah baru saja usai, Amanda sedang berjalan pulang ketika mendengar suara seseorang memanggilnya. Dia menoleh ke belakang. Terlihat Nisa berlari mengejarnya dengan tergopoh-gopoh.

“Ada apa Nisa?”, tanya Amanda keheranan.

“Begini, aku mau mengembalikan ini”, kata Nisa sambil mengangsurkan sebuah tas plastik kepada Amanda. Amanda, melihat isi tas plastik tersebut, lalu bertanya, “Lho, kenapa dikembalikan, kamu tidak suka sepatu ini ya?”

“Lantas mengapa sepatu ini kamu kembalikan kepadaku, apakah kamu tidak memerlukannya?”, tanya Amanda menyelidik.Nisa teringat dengan kejadian kemarin. Ketika itu, dia baru saja pulang dari sekolah. Saat masuk rumah, segera ditemuinya Ibunya yang sedang memasak di dapur.

“Bu…Bu… lihat”, katanya sambil berjingkat-jingkat penuh kegirangan.
Ibunya menengok sekali lagi sambil berkata, “Iya, bagus sekali sepatu yang kau pakai. Omong-omong, sepatu itu pinjam dari siapa?”